oleh

Jepang Guru Antri

Kanal:Opini|281 dilihat

Membangun karakter sebuah bangsa bukanlah hal yang dapat dilakukan dengan instan atau secara tiba-tiba yang bisa disulap. Karakter terbentuk berawal dari pembiasaan yang terus menerus dipantau dan diarahkan sehingga pembiasaan itu menjadi sebuah karakter yang dimiliki seseorang.

Dengan setiap orang memiliki karakter yang baik yang mendominasi karakter dari masyarakatnya, maka barulah dapat dikatakan itu menjadi karakter bangsa. Tidak dapat kita katakan sebuah pembiasaan itu menjadi karakter bangsa, jika hanya segelintir masyarakatnya saja yang memilikinya.

Perlu keseriusan dari berbagai pihak, mulai dari keluarga yang merupakan pondasi awal dan menjadi tolak ukur bagi keberhasilan pendidikan anak sampai lingkungan sekolah yang merupakan tempat di mana anak-anak menerima ilmu pelajaran dan cenderung di banyak hal anak-anak lebih percaya kepada guru dibandingkan orang tuanya.

Berbicara masalah karakter tidak lepas dari peran orang-orang atau lingkungan yang ada di sekelilingnya, baik itu lingkungan sekolah, lingkungan sosial. Apalagi lingkungan keluarga yang notabene adalah kunci utama dalam membangun sebuah karakter pemuda. Perlu waktu dan penerapan yang konsisten dalam membangun sebuah karakter.

Penulis mengambil contoh yaitu Jepang, bagaimana karakter yang begitu luar biasa yang dimiliki Jepang sebagai negara. Di mana masyarakatnya sangat menjunjung tinggi rasa sosial kemasyarakatannya.

Penulis menilai bahwa negara Jepang adalah negara yang sangat tepat untuk dijadikan contoh pembangunan karakter bagi sebuah bangsa, mulai dari anak-anak hingga orang tua.
Tujuh dasar negara yang mereka anut benar-benar mereka laksanakan mulai dari lingkungan keluarga hingga lingkungan baru yang tidak mereka kenal, seperti yang terjadi pada saat ASIAN GAMES 2018 lalu di Jakarta dan Palembang. Sekelompok pendukung kontingen Jepang memunguti sampah puntung rokok dan membuangnya ke tong sampah.

Demikian juga yang terjadi saat Jepang versus Kolombia pada penyisihan Piala Dunia di Mordovia Rusia. Seusai pertandingan para pendukungnya pun membersihkan sampah yang ada di sekitar tempat duduk mereka (Titi Fajriyah CNN Indonesia Rabu, 20-6-2018).

Ini menunjukkan bahwa masyarakat Jepang melakukan hal tersebut bukan hanya sekedar takut dengan aturan, akan tetapi sudah menjadi karakter pada diri mereka. Dan jelas saja saat penulis melakukan kunjungan ke negara tersebut, di sana masyarakat tidak khawatir dengan pengawasan gerak-gerik mereka di jalanan dengan CCTV tetapi memang karena kesadaran dan malu jika melakukan kesalahan maka mereka menjaga prilaku mereka.

Penulis juga mendapat pencerahan bahwa walaupun Singapura merupakan salah satu negara yang juga sangat disiplin, namun perbedaannya adalah Singapura masih banyak melakukan sistem denda bagi para pelanggar aturan sehingga belum menjadi karakter namun hanya sebatas ketakutan akan aturan atau keterpaksaan. Dan ini memang diperlukan sebagai langkah awal agar masyarakat sebuah bangsa bisa terbiasa sembari pemahaman terus diberikan kepada masyarakatnya.

Luasnya pembahasan mengenai karakter, maka di sini penulis akan spesifik membahas karakter kedisplinan dan tanggung jawab seorang pelajar yang berperan penting bagi karakter pemuda. Pembiasaan Antri misalnya, yang penulis amati sejauh ini sangatlah belum bisa membentuk karakter disiplin bagi seorang pemuda.

Kendati pun sejak usia dini anak-anak sudah diajarkan tentang antri dan sampai mereka dewasa pun mereka diajarkan apa dan bagaimana antri itu sendiri, namun faktanya sampai saat hari ketika mereka dewasa belum juga bisa menerapkan nilai-nilai kedisiplinan dalam antri dan belum terpatri dalam jiwa mereka.

Di sekolah yang menjadi tempat penulis mengamati pembiasaan ‘antri’ ini dilakukan ada banyak hal yang menjadi pertanyaan dan bagi penulis perlu peninjauan ulang. Sejak anak-anak sekolah mulai dari kelas 1 hingga kelas 6, setiap gurunya sudah mengajarkan prilaku antri dalam kehidupan sehari-hari, namun setelah mereka masuk tahun keenam pun masih perlu diingatkan dan hal yang sama masih harus dilakukan guru kepada muridnya meski setiap tahun mereka sudah menerima pelajaran tersebut.

Banyak hal yang dilakukan guru untuk membuat anak-anak bisa antri. Namun penulis merasa sepertinya hal yang dilakukan guru justru membuat anak-anak justru tidak mau antri atau sebaliknya dari apa yang diingankan oleh gurunya, seperti, anak-anak masih ingin menjadi yang terdepan, atau tidak sabar dan meminta teman di depan agar lebih cepat karena ia merasa diperlambat karena temannya yang ada di depannya lambat.

Konflik sosial yang terjadi sering kali disebabkan karena belum adanya rasa saling menghargai dan cenderung ingin selalu menjadi yang terbaik, dan itu semua merupakan efek panjang yang disebabkan karena belum bisanya masyarakat memahami dan mengamalkan arti dari konsep antri yang dilakukan selama sekolah.

Disiplin sendiri menurut buku Kamus Umum Bahasa Indonesia pada edisi ketiga, yang memiliki arti ‘tata tertib’ atau ‘ketaatan dan kepatuhan pada aturan dan tata tertib’. Dan ‘ata tertib, itu sendiri artinya peraturan-peraturan yang harus ditaati atau dilaksanakan (KUBI edisi ketiga, 296 dan1218).

Jadi tidaklah mungkin jika kita menginginkan suatu ketertiban tanpa adanya aturan yang harus diikuti. Kehidupan yang berhubungan dengan sosial itu memiliki kompleksitas lebih tinggi dibandingkan dengan kehidupan yang berhubungan dengan ketuhanan, dalam Q.S. Ali Imron: 103 “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karuniaNya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”

Artinya kita harus berhati-hati dalam kehidupan sosial selain urusan kerohanian kita kepada sang pencipta.

Adapun hubungannya dengan karakter pemuda yang terbentuk melalui pembiasaan “antri” sangat erat kaitannya dengan kehidupan sosial yang dari banyak sisi dapat diambil pembelajaran. Jika ada yang beranggapan bahwa “antri” adalah hal yang sepeleh, tentu itu kesalahan yang sangat fatal karena itulah penulis akan membedah problematika antri yang berefek kepada banyak hal:
1. Kesabaran
2. Tenggang rasa
3. Mendahulukan kepentingan orang lain dari pada mengambil haknya.

Setidaknya tiga hal ini yang akan penulis paparkan dalam pembahasan kali ini.

Kesabaran
Kesabaran yang dibentuk oleh budaya antri akan sangat berpengaruh dalam kehidupan. Bagaimana tidak, dengan kehidupan yang semakin mudah dan serba instan, membuat masyarakat kita tidak mau lagi melakukan apa yang disebut antri, bahkan setiap promosi produk-produk online sering kali tawaran utamanya adalah “bebas antri”. Belum lagi masyarakat rela membayar lebih kepada oknum pelayan masyarakat agar tidak antri dan lebih cepat.

Kesabaran yang dimiliki masyarakat Jepang sudah luar biasa, bagaimana tidak, pada saat seorang pengemudi mobil pribadi yang ingin keluar dari pagar rumahnya, rela menunggu rombongan kami yang hendak lewat di trotoar jalan tepat di depan pagar rumahnya padahal bisa saja ia langsung keluar dan meminta pejalan kaki untuk menunggu.

Kesabaran juga bisa terlihat dalam hal ketelitian dan kekonsistensian mereka dalam melakukan pekerjaannya, setiap SOP (standar operasional prosedur) yang telah disepakati, benar-benar dilakukan sebagaimana mestinya, seperti pengecekan yang awak kabin pesawat lakukan untuk memastikan kabin pesawat telah terkunci saja mereka lakukan 3-4 kali sebelum penerbangan dilakukan. Artinya semua yang menjadi kesepakatan ataupun aturan dalam hidup mereka benar-benar dilakukan tanpa harus menunggu diperintah ataupun diawasi.

Kesadaran inilah yang membuat warga Jepang melakukan semua aturan bukan karena ketakutan, tetapi karena kesadaran dari dalam diri masyarakatnya masing-masing. Sikap seperti ini tidak dapat dibentuk secara instan dan membutuhkan keseriusan dari berbagai pihak.

TENGGANG RASA
Ketika sedang berada di tranportasi umum yang terdapat di negara Jepang setiap warganya selalu menanamkan sikap tenggang rasa terhadap orang yang ada di sekitarnya. Saat berada di kereta saja misalnya, tidak ada yang membelakangi penumpang lain atau anak kecil yang kalau di Indonesia berkeliaran dan makan seenaknya di dalam transportasi umum. D negara tersebut benar-benar menjaga hal tersebut untuk kenyamanan orang lain, jangan sampai ia menjadi pengganggu bagi penumpang lainnya.

MENDAHULUKAN KEPENTINGAN ORANG LAIN DARI PADA MENGAMBIL HAKNYA
Ini juga dialami langsung oleh penulis pada saat kunjungan di negara tersebut. Ada dua orang warga Jepang yang sedang menggunakan fasilitas umum eskalator.

Pada saat itu ada satu orang dari rombongan tersebut sedang berdiri di tangga bagian kanan, maklumlah karena terbiasa ngobrol di mana saja sampai di eskalator pun berdiri di bagian kanan yang sebenarnya merupakan jalur untuk pejalan kaki yang ingin terus berjalan bukan berdiri (jalur cepat).

Yang membuat penulis terkagum-kagum ialah, warga lokal tersebut bukannya mengusir teman penulis tersebut, malah ikutan berdiri. Setelah teman penulis tersebut bergeser ke kiri, barulah warga Jepang tersebut mengucapkan terima kasih dan permisi untuk terus melanjutkan berjalan.

Hal ini sungguh sangat luar biasa, mereka lebih mendahulukan kepentingan orang lain dibandingkan dengan kepentingannya. Artinya karakter yang dimiliki warga Jepang
sudah sangat jauh, tidak hanya memperjuangkan haknya, bahkan sudah sampai merelakan haknya untuk orang lain.

TINJAUAN PSIKOLOGI
Terminologi pendidikan karakter mulai dikenalkan sejak tahun 1900-an. Thomas Lickona dianggap sebagai pengusungnya, terutama ketika ia menulis buku yang berjudul The Return of Character Education dan kemudian disusul bukunya, Educating for Character: How Our School Can Teach Respect and Responsibility (Jakarta: Bumi Aksara, 2012).
Menurut Thomas Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior). (Jakarta: Prenada Media, 2011).

Dengan demikian, pendidikan karakter harus menjadi fokus perhatian yang dapat membentuk prilaku, sikap dan konsep moral dalam kehidupan. Sebagaimana juga terdapat dalam poin-poin Kompetensi Inti kurikulum pendidikan nasional 2013 atau lebih dikenal dengan K13 terdapat Kompentensi Inti Sikap.
Selain itu juga, Ratna Megawangi dalam buku Character Parenting Space, telah menyusun kurang lebih ada sembilan karakter mulia yang harus diwariskan yang kemudian disebut sebagai sembilan pilar pendidikan karakter
Yaitu : a). Cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa dan kebenaran; b). Tanggung jawab, kedisiplinan dan kemandirian; c). Amanah; d). Hormat dan santun; e). Kasih sayang, kepedulian dan kerjasama; f) percaya diri, kreatif dan pantang menyerah; g). Keadilan dan kepemimpinan; h). Baik dan rendah hati; i). Toleransi dan cinta damai. (Bandung: Alfabeta, 2008).

KESIMPULAN
Dari tiga hal itulah penulis mencoba membuat konsep bahwa pendidikan antri kepada anak usia sekolah perlu adanya konsep baru. Dan yang penulis tawarkan adalah dalam pembiasaan antri perlu adanya pendampingan dan pengawasan dari pendidik serta harus ada evaluasi sistem antri yang diterapkan. Yakni penjadwalan urutan baris atau giliran setiap hari dengan anak yang berbeda, sehingga kendati pun anak yang mendapat giliran di depan pada hari itu sedikit terlambat, maka dia tetap diberikan kesempatan untuk berada di urutan pertama.

Konsep ini bertujuan untuk menanamkan sikap tenggang rasa antar sesama dan menghargai hak orang lain. Dengan demikian anak-anak tidak akan berebut untuk menjadi yang terdepan.

Dan konsep ini juga harus diselaraskan dengan semua hal, seperti tidak adanya sistem peringkat di kelas, tidak mengutamakan kompetisi di usia sekolah dasar sebagai media pembentukan karakter anak dan kontrol bagi perkembangan ego anak.

Ini tentunya memerlukan energi lebih dari seorang guru yang setiap hari akan menjadwalkan dan memantau anak dalam menerapkan pembiasaan tersebut kemudian efek saling berebutan untuk selalu menjadi yang terdepan dapat terkontrol.

Semoga apa yang menjadi konsep pemikiran penulis ini dapat terealisasi di seluruh sekolah yang ada di Indonesia agar cita-cita bangsa untuk membangun karakter yang baik dapat terlaksana. Setidaknya penulis tidak ingin hanya diam melihat kondisi bangsa yang semakin hari semakin jauh dari karakter yang dicita-citakan.

Dengan demikian, pembangunan karakter suatu bangsa yaitu dari pemudanya, sejak dini dan mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga dan sekolah.

DAFTAR PUSTAKA
Departemen Agama RI. Al Qur’an Dan Terjemahannya. Surabaya: Karya Agung, 2006
Purwadarminta. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta Timur: Balai Pustaka, 2011
Efa Refnita. Asyiknya Belajar di 5 Benua. Surakarta: Visi Mandiri, 2018.
Titi Fajriyah CNN Indonesia Rabu, 20-06-2018
Dalmeri. Pendidikan Untuk Pengembangan Karakter Telaah terhadap Gagasan Thomas Lickona dalam Educating for Character, Al-Ulum Volume. 14 Nomor 1, Juni, 2014.
Zubaidi. Desain Pendidikan Karakter, Jakarta: Prenada Media, 2011.
Zainal Elmubarok. Membumikan Pendidikan Nilai, Bandung: Alfabeta, 2008.

Penulis:
Asef Fahrizal Arfani
Guru Sekolah Islam Al-Azhar Cairo Indonesia
Mahasiswa Psikologi Pendidikan Islam Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga
fahrizalasef@gmail.com

Penulis : | Editor : A. Fajar | Sumber : Reportase.net

News Feed