oleh

Walhi Gelar Aksi di Halaman Bank of China

Kanal:Lingkungan|396 dilihat

Peserta aksi mengenakan topeng monyet di halaman Bank Of China, Jakarta

 

REPORTASE – Menjelang putusan Pengadilan Tata Usaha Negeri Medan (PTUN Medan) mengenai gugatan WALHI terhadap izin lingkungan PLTA Batang Toru pada hari Senin, 4 Maret 2019 mendatang, WALHI (Friends of the Earth Indonesia) bersama jaringan internasional mengadakan “International Action Day of Protest Against Bank of China”, Jum’at (01/03/2019).

Aksi yang digelar di halaman Bank of China Ltd, Gedung Perkantoran The East, Mega Kuningan, Jakarta selatan ini diikuti beberapa peserta aksi beratribut topeng monyet.

Center Communications kegiatan, Agus Dwi mengatakan, kegiatan ini adalah International Action Day of Protest Against Bank of China, dilakukan secara serentak di beberapa negara yang bergabung dengan koalisi.

“Tujuan dari aksi ini sendiri adalah untuk memberi tekanan dan  meminta Bank Of China untuk pull off pendanaan PLTA Batang Toru. Kami juga memberikan awareness kepada masyarakat sekitar untuk tahu dampak  pembangunan PLTA Batang Toru yang dilakukan PT. NSHE (North Sumatra Hydro Energy) ini,”ujarnya.

Apabila dilanjutkan, proyek ini bisa dipastikan akan memusnahkan rimba terakhir Sumatra dan kekayaan ekosistem Batang Toru, yang merupakan sumber mata pencaharian komunitas lokal dan rumah, untuk beberapa flora fauna yang hampir punah.

Dia menegaskan, proyek ini juga merupakan ‘lonceng kematian’ terhadap orang utan Tapanuli yang baru diidentifikasi pada 2017 lalu. Kini hanya tersisa kurang dari 800 individu.

Selain itu, akan ada pengurangan debit air sepanjang kurang lebih 12 KM dari bendungan hingga power house. Debit air dari bendungan yang semula 52,6 m3/detik menjadi 2,5 m3/detik dan akan menjadi 6,8m3/detik bila mendapatkan tambahan dari anak sungai disekitar sungai hingga ke titik power house.

“Pengurangan debit air yang sangat signifkan ini akan mempengaruhi kehidupan manusia dan makhluk hidup lain,” tambahnya.

WALHI sendiri, menggugat Izin Lingkungan PLTA Batang Toru pada Agustus 2018. WALHI telah menghadirkan ‘key experts’ untuk dijadikan saksi ahli dan memberikan keterangan dalam persidangan. Mereka adalah Prof Indrayana, ahli Tata Ruang dari Universitas Gadjah Mada, Prof Teuku Abdullah Sanny ahli Geofisika dari Institut Teknologi Bandung, Dr. Serge Alexander Wich ahli Orangutan dari Belanda, dan Dr. Onrizal ahli kehutanan dari Universitas Sumatra Utara.

Dari proses persidangan, WALHI menyimpulkan bahwa Analisis Dampak Lingkungan (AMDAL) dari PLTA Batang Toru memiliki banyak kekurangan dalam melakukan penilaian dampak keragaman hayati, geofisika, lingkungan, kegempaan, dampak kumulatif dan bahkan terdapat pemalsuan tanda tangan dari salah satu penyusunnya. Dalam hal ini, WALHI melihat AMDAL tersebut cacat secara legal dan substansi, seharusnya Izin Lingkungan tidak bisa diloloskan.

Penulis : | Editor : A. Fajar | Sumber : Reportase.net
Hashtags :
Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

News Feed