oleh

Miris, Setiap 33 Menit Warga Sumsel Jadi Korban Kriminal

Kanal:Hukum & Kiminal|0 dilihat
Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara saat memberikan keterangan

REPORTASE – Biro Ops Polda Sumsel merilis analisa dan evaluasi tindak kejahatan yang terjadi di Bumi Sriwijaya sepanjang tahun 2017. Hasilnya, tercatat telah 15.594 kasus berbagai macam tindak pidana terjadi di Sumsel.

Kapolda Sumsel Irjen Pol Zulkarnain Adinegara mengungkapkan, jumlah tersebut menurun dari tahun 2016 dengan jumlah tindak pidana yang terjadi sebanyak 19.232 kasus.

“Dari jumlah tersebut terjadi penurunan terjadinya tindak pidana sebanyak 18,92 persen. Ini menjadi tren positif untuk keamanan dan ketertiban masyarakat secara umum,” ujarnya.

Dari 15.594 temuan dan laporan tindak pidana tersebut, sebanyak 10.121 diantaranya telah diselesaikan dan diungkap. Para tersangkanya pun telah tertangkap. Dibandingkan dengan penyelesaian kasus pada 2016 yang sebanyak 9.859, tren penyelesaian kasus naik 26,61 persen.

Dari jumlah tersebut, satu dari 8,1 juta penduduk Sumsel menjadi korban tindak pidana setiap 33 menit 36 detik. Selang waktu tersebut lebih lama enam menit 36 detik dari tahun 2016 yang terjadi satu tindak pidana per 27 menit.

“Oleh karena itu, resiko penduduk menjadi korban tindak pidana pun menurun sebanyak 17,99 persen. Dari 239 kejadian tindak pidana per 100.000 penduduk menjadi 194 per 100.000 penduduk,” jelas jenderal bintang dua tersebut.

Polda pun mencatat 12 tindak pidana menonjol sepanjang 2017 yakni pencurian biasa, pencurian dengan kekerasan (curas), pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian kendaraan bermotor (curanmor) penganiayaan ringan, penganiayaan berat (anirat), serta penggelapan.

Lalu kasus menonjol lainnya yakni penipuan, penyalahgunaan narkotika, judi, pemerkosaan, pembunuhan, peredaran uang palsu, kebakaran, serta kenakalan remaja.

Dari 15 kasus menonjol, tiga diantaranya meningkat dari tahun 2016 yakni judi, penyalahgunaan narkotika, serta pencurian biasa.

Pada 2017 terjadi 1.566 kasus penyalahgunaan narkotika di wilayah Sumsel. Sebanyak 1.545 kasus diantaranya berhasil diselesaikan oleh kepolisian. Tren laporan maupun penyelesaian kasus naik 21,08 persen dari tahun 2016 dengan jumlah laporan 1.441 dan 1.276 penyelesaian kasus.

Sementara untuk kasus pencurian biasa yang terjadi pada 2017 naik 108 persen dari tahun sebelumnya. Terdapat 890 laporan kasus pencurian namun hanya 315 yang sudah berhasil diungkap. Sementara 475 kasus lainnya belum terungkap.

Jumlah tersebut melonjak naik dari tahun 2016 yang hanya terjadi 426 pelaporan kasus pencurian, dengan 199 kasus diantara sudah diungkap kepolisian.

Sementara untuk kasus judi, tren laporan naik 61,68 persen dari 107 kasus di 2016, naik menjadi 173 kasus pada 2017. Sebanyak 179 kasus diantaranya diselesaikan pada 2017 sementara hanya 49 kasus yang berhasil diselesaikan pada 2016.

“Untuk kejahatan konvensional seperti curas, curat, dan curanmor (3C) terdata menurun. Seluruh oenyelesaian kasusnya pun naik dengan persentase yang cukup,” jelas Kapolda.

Pada 2017 terjadi 2.617 kasus curat, 995 kasus curanmor, serta 938 kasus curas. Sementara pada 2016 terjadi 3.601 kasus curat, 1.341 kasus curanmor, serta 1.372 kasus curas. Tren laporan kasus curat menurun 27,33 persen, curanmor turun 25,8 persen, dan curas turun 31,63 persen.

“Penyelesaian tiga kasus 3C seluruhnya naik. Persentase ungkap kasus curat naik 5,74 persen, kasus curanmor naik 13 persen, serta kasus curas naik 10,49 persen.

Untuk kasus penganiayaan, tercatat anirat terjadi 1.130 kasus dan aniaya ringan 246 kasus sepanjang 2017. Jumlah tersebut menurun 28,07 persen untuk anirat dan 41,71 persen untuk aniaya ringan dibandingkan dengan 2016.

Pada 2016 lalu terjadi 1.517 kasus anirat dan 422 aniaya ringan. Tingkat penyelesaiannya pun ikut turun dengan anirat 15,4 persen sementara tingakt penyelesaian kasus aniaya ringan turun 43,62 persen. Artinya masih banyak kasus penganiayaan yang belum terungkap.

Kasus lainnya pun tercatat terjadi penurunan jumlah dibandingkan dengan yang terjadi pada 2016.

Kasus penggelapan pada 2016 terjadi sebanyak 1.508, turun 21,55 persen menjadi 1.183 jumlah laporan pada 2017. Kasus penggunaan dari 2016 dengan julah laporan 1.165, turun 8,58 persen di 2017 dengan jumlah laporan 1.065.

Terjadi 109 kasus pemerkosaan di tahun 2016 dengan jumlah penyelesaian 62 kasus. Turun di 2017 menjadi 79 kasus pemerkosaan dengan jumlah pemesanan 51 kasus. Puluhan pria cabul dan hidung belang masih banyak bebas berkeliaran dengan masih banyaknya kasus pemerkosaan yang belum terungkap.

Kasus pembunuhan pun terdata menurun tipis sebanyak 10 persen. Dari 120 kasus pembunuhan pada 2016, pada 2017 terjadi 108 pembunuhan. Sebanyak 92 kasus diantaranya terungkap pada 2016, sementara 87 lainnya terungkap pada 2017. Tingkat penyelesaian kasus turun sebanyak 5,43 persen.

Secara umum, Kapolda berujar, jumlah tidak pidana di Sumsel, khususnya tidak pidana umum seperti 3C menurun. Dengan adanya penurunan tindak pidana dan peningkatan penyelesaian kasus, dirinya berharap, hal tersebut bisa menjadi modal kuat untuk menyongsong 2018.

“Anggota kepolisian tidak boleh tinggi hati dengan pencapaian selama ini. Tahun 2018 merupakan tahun politik dengan diselenggarakannya pilkada serentak, serta diselenggarakannya Asian Games di Palembang. Kinerja polisi harus lebih baik ke depannya,” ujarnya. ( Red )

Penulis : | Editor : A. Fajar | Sumber : Reportase.net
Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar

News Feed