oleh

Diduga Aniaya Sopir Taksi, Perwira Polisi Dilaporkan

Kanal:Hukum & Kiminal|299 dilihat
ilustrasi

REPORTASE –  Herni Susanti (38), warga Jalan Harapan Jaya, Kelurahan Sei Selayur, Kecamatan Kalidoni, Palembang melaporkan jajaran Unit Reskrim Polsek Kalidoni, pimpinan Kanit Iptu Suldani ke Propam Polda Sumsel, Rabu 21 Februari 2018.

Bersama penasehat hukumnya, Andika Andlantama SH, Herni melaporkan Iptu Suldani dan jajarannya karena melakukan penganiayaan dan intimidasi terhadap suami Herni, Eko Yuliono (37) yang ditangkap karena dugaan pencurian.

Usai memberikan laporan, Andika mengatakan, halo yang terjadi akibat tindakan kurang profesional yang dilakukan penyidik ​​saat penangkapan dan perawatan Eko, yang berprofesi sebagai cepat taksi secara online. Hingga saat ini, Eko masih ditahan di sel Mapolsek Kalidoni.

Berdasarkan pengakuan Eko, kata Andika, selama proses pemeriksaan Eko dianiaya dan diintimidasi untuk mencari cara pencurian yang tidak dilakukan oleh Eko.

Andika menjelaskan, Eko dituduh mencuri spare part mobil truk pada 30 Januari 2017 lalu dan baru ditangkap pada 11 Februari 2017 lalu di Simpang Kalidoni pada pukul 24.00.

Selama pemeriksaan, Eko mengaku dianiaya dan diimunisasi untuk menukar perbuatan yang tidak ada tersebut.

“Saya tidak sabar lagi,” katanya. “Tunggu sebelum ditangkap kondisinya baik-baik saja dan proses penangkapannya pun tanpa kekerasan. Klien saya mengaku dianiaya penyidik,” ujarnya.

Selain itu, diripun terjadi penahanan kliennya yang tidak sesuai dengan pasal 184 KUHAP yang harus ada alat bukti yang sah untuk menahan kliennya.

“Namun barang bukti yang menjadi pegangan penyidik ​​memang selembar papan kayu Penyamin tidak memiliki alat bukti yang cukup untuk menahan klien saya. Sesuai undang-undang, untuk penahanan ada proses pemanggilan pertama dan kedua, ada barang bukti dan ukuran yang lengkap, tidak pula- merta melakukan penahanan, “jelas Andika.

Pihaknya melaporkan Kanit Reskrim dan jajarannya terkait kode etik, belum untuk dilaporkan dugaan tindakan pidana yang dilakukan terlapor.

Sementara Sukilan (65), ayah Eko berujar, pada tanggal 11 Februari anaknya tersebut masih sempat menelpon istrinya Herni pada pukul 23.00.

Namun hingga pagi menjelang, anaknya tersebut tak kunjung pulang padahal tidak pernah anaknya tidak pulang dalam waktu satu malam.

“Kami khawatir, jadi besoknya 12 Februari mencari Eko. Kami tanya ke pangkalan sopir taksi online di Simpang Kalidoni itu, katanya ditangkap polisi. Kami langsung ke Polsek dan lihat ada mobil Toyota Avanza BG 1198 EB punya anak saya disana,” ujar Sukilan usai melapor.

Pihaknya pun mendatangi Polsek untuk menjenguk Eko, namun tidak langsung diperbolehkan oleh anggota polisi dengan alasan bukan jam besuk dan masih dalam pemeriksaan hingga tiga hari pasca penangkapan.

“Waktu besuk, mukanya sudah bonyok, biru-biru. Padahal kata temannya yang lihat dia ditangkap, Eko tidak melawan,” ujarnya.

Sementara itu Kapolsek Kalidoni AKP Yulia Farida, enggan berkomentar saat dimintai tanggapan. “Beritakan yang lain saja. Kalau saya kasih tanggapan, nanti dijadikan berita,” ujarnya lewat sambungan telepon.

Kabid Propam Polda Sumsel Kombes Pol Didi Hayamansyah berujar, pihaknya telah menerima laporan tersebut dan akan didalami serta diklarifikasi lebih lanjut.

Berdasarkan laporan awal yang diterima, Didi berujar, pelapor memang pelaku tindak pidana yang tengah menjalani proses pemeriksaan di Polsek Kalidoni.

“Kita lihat prosesnya, apalagi yang bersangkutan melakukan tindak pidana. Nanti dilihat di proses pengadilannya, apabila memang pelaku tidak terbukti melakukan tindak pidana kita bisa pidanakan anggota (polisi-red)-nya,” ujar Didi.

Didi pun menjelaskan, pihaknya akan memeriksa lebih dalam terkait proses penyidikan yang dilakukan terlapor. Karena dalam beberapa hal, penggunaan kekuatan, benda tumpul, dan senjata api diperbolehkan selama proses penyidikan.

“Bisa saja saat diperiksa (pelaku red) lakukan perlawanan Anggota (polisi red) punya wewenang itu, lakukan tindakan lain (bisa menggunakan kekuatan-red) yang bisa dipertanggungjawabkan selama pemeriksaan. Misal dia menggunakan senjata api, gunakan benda tumpul, gunakan kekuatan tumpul, gunakan kekuatan diperbolehkan, kalau hidup jiwa orang lain, “jelasnya.

Tapi kalau pelakunya benar-benar terbukti bersalah di pengadilan, Didi bilang, berarti pelakunya itu modus cari alasan pembenaran atas pelaporannya.

“Nanti di pengadilan yang punya hak hakim hakim, biar hakim yang menentukan. Kalau kita masih azas praduga tak bersalah. Penyidik ​​tetap mengedepankan kasusnya dulu, jangan campuradukkan dengan wewenang penyidik,” ujarnya. (merah)

Penulis : | Editor : A. Fajar | Sumber : Reportase.net
Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar

News Feed