oleh

Karhutbunla Tak Kunjung Usai, Poros Hijau Indonesia Sumsel Sebut Ini Kelalaian Korporasi Perkebunan Besar

Kanal:Headline, Peristiwa|22 dilihat

REPORTASE – Aktivis lingkungan hidup yang tergabung dalam Poros Hijau Indonesia (PHI) wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) berseru tegas menyikapi fenomena Karhutbunla yang terjadi saat ini. Titik panas yang menyebar dan merambat serta membakar areal disekitarnya dan menimbulkan asap.

Dampak dari karhutbunla yang terjadi di Sumsel terpantau semakin meluas. Kota Palembang saat ini tertutup asap, kondisi pekat kabut asap yang kian parah dalam beberapa hari terakhir, membuat indeks standar pencemar udara (ISPU) di Kota Palembang masuk kedalam kategori tidak sehat hingga berbahaya.

“Kondisi ini terjadi pada malam hari hingga pagi hari. Kombinasi antara konversi kebakaran hutan kebun dan lahan mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup secara global akibat besarnya jumlah karbon dioksida (CO2) yang terlepas ke atmosfir sehingga makin memperburuk, Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) yang diukur
melalui alat Air Quality Monitoring System (AQMS) milik BLH Palembang
pada pukul 18.00 WIB menunjukkan hasil pengukuran konsentrasi PM 3,0 dengan nilai 300 atau diatas baku mutu.”ujarnya Koordinator Poros Hijau Sumsel, Chandra Anugrah.

Chandra menyebut bahwa nilai tersebut masuk dalam daftar hitam atau berbahaya dan salah satu praktik pelanggaran terhadap pemenuhan hak dasar warga, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak lansia dan ibu hamil.

Baca :   Kondisi Koma Demonstran Tolak RUU KPK dan KUHP, Keluarga Dikirim Surat Penetapan Tersangka

“Pemerintah dan pemilik konsesi yang lahannya terbakar harus bertanggung jawab memberikan bantuan air bersih, layanan kesehatan, Lemahnya pengawasan pada kawasan konsesi hutan perkebunan dan gambut mengakibatkan penanganan Karhutbunla tidak mengalami kemajuan bahkan cenderung semakin memburuk.

Hal ini berbanding terbalik dengan tudingan pemerintah provinsi maupun daerah yang mengatakan bahwa titik api disebabkan oleh masyarakat padahal, yang terjadi titik api berasal dari wilayah konsesi perkebunan.” ujarnya.

Selanjutnya ia menyampaikan bahwa hari ini telah terjadi kebakaran hutan kebun dan lahan. Ini merupakan dampak dari lambannya pemerintah daerah mengantisipasi kejadian dari awal.

“Pemerintah harus lebih peduli dan mau melakukan koordinasi institusi yang
seharunya bereaksi cepat. Faktanya kebakaran hutan dan lahan yang setiap tahunnya terjadi terus berulang, bahkan di tempat yang sama. Hal ini menunjukan tiada daya dan upaya selain upaya penegakan hukum dengan bertindak tegas kepada pelaku usaha. Yang kita ketahui sejak kebakaran besar 2015 tidak ada satupun perusahan yang dicabut izinnya ataupun penciutan izin di wilayah kebakaran. Selian itu, persoalan Karhutbunla jangan hanya dilihat dari kuantitas titik api, tetapi jauh lebih penting soal kualitas kondisi terbakar dan letak kejadiannya. Sehingga, tidak tepat membandingkan pembukaan ladang petani pada skala minor di lahan, dengan pembakaran lahan korporasi untuk land clearing.” tuturnya.

Baca :   SFC Gagal Kantongi Point Melawan Persiraja Banda Aceh

“Propaganda pemerintah tentang moratorium hutan. Kedengarannya mengesankan, tetapi tidak memberikan perubahan nyata di lapangan. Deforestasi dan kebakaran hutan kebun lahan terus berlanjut di dalam area moratorium dan peta batas secara teratur digambar ulang untuk
menghilangkan hutan atau lahan gambut yang menarik bagi perusahaan
perkebunan.” kata Chandra Anugrah.

Sedikitnya 353 titik api terpantau muncul di Sumatera Selatan, Minggu (8/9). Jumlah titik api tersebut merupakan yang terbanyak di Sumsel sepanjang tahun 2019 di tengah maraknya kebakaran hutan kebun dan lahan (karhutbunla).

Berdasarkan pantauan satelit di situs Lapan, 353 titik api tersebut terjadi pada
Sabtu (7/9) hingga Minggu (8/9) petang. Jumlah tersebut terdiri dari 113 titik
dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen, 227 diantaranya dengan tingkat
kepercayaan 30-80 persen, sementara 13 lainnya di bawah 30 persen. Jumlah titik api dalam satu hari tersebut merupakan yang terbanyak dalam jangka satu hari selama 2019 melewati jumlah 187 titik api pada 19 Agustus dan 154 titik api pada 23 Agustus.

Baca :   SFC SuksesTerobos Babak 8 Besar Liga 2

Selain itu, adapun point penting yang di sampaikan Poros Hijau Indonesia Sumsel dengan menyatakan bahwa yaitu,

1. Meminta kepada Presiden untuk mengevaluasi kinerja semua institusi yang terkait dengan kebakaran Hutan kebun dan lahan, KLHK,PNPB,BRG,TRGD. 2. Penegakan hukum terhadap perusahaan yang terindikasi melakukan kelalaian maupun kesengajaan sehingga terjadinya kebakaran hutan kebun dan lahan termasuk penegakkan hukum eksekusi semua keputusan hukum dari pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap mengenai hukuman terhadap perusahaan yang dinyatakan bersalah dalam proses kebakaran kebun dan hutan.
3. Transparansi penggunaan dana penanggulangan karhutbunla 2019 serta hasil kegiatan penanganan.
4. Memaksimalkan peran aktif pemerintah daerah yang wilayah nya mengalami karhutbunla dari sisi teknis, dan aksi pecegahan dan pemulihan.
5. Meningkatkan program penanganan pencegahan kebakaran Karhutbunla baik yang melibatkan perusahaan maupun masyarakat.
6. Mendorong pihak Kepolisian untuk lebih aktif melakukan penyelidikan, penyidikan sebagai bagian penegakkan hukum terhadap Karhutbunla sehingga
menciptakan efek jera.

Penulis : | Editor : A. Fajar | Sumber : Reportase.net
Hashtags :
Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

News Feed