oleh

Ketika Belanja Online jadi Idola Kaum Ibu

Kanal:Ekonomi & Bisnis|0 dilihat
ilustrasi

 

REPORTASE – Survei TheAsianParent menempatkan angka 73% kaum ibu di kota besar memilih belanja online. Ini adalah hasil survei yang dilakukan Desember 2017 terhadap 1.000 ibu di Jakarta, Surabaya, dan Medan.

Country Manager Tickled Media Indonesia, Hadi Pangestu mengatakan, alasan terbesar para ibu memilih belanja online adalah menghindari kerepotan berbelanja di luar rumah dengan membawa anak.

Tiga alasan lainnya yakni bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja, hemat waktu, serta bisa membandingkan harga dengan mudah. Selain membandingkan harga, kaum emak juga suka kemudahan membandingkan kualitas barang melalui ulasan di internet, terutama pada situs parenting.

Sebanyak 94% responden membeli melalui rekomendasi online dan 28% membeli setelah melihat ulasan dari situs parenting.

“Belanja itu menyenangkan. Dan ketika sudah berubah peran menjadi istri dan ibu, pola belanja juga bisa berubah. Mayoritas ibu belanja untuk keperluan anak. Jalan-jalan yang dilihat juga untuk anak,” ujar psikolog dari Rumah Dandelion Nadya Pramesrani saat menjadi pembicara tentang Hasil Survei Ibu Indonesia dan Belanja Online di Gedung Ariobimo, Rabu 14 Februari 2018.

Hal ini sesuai dengan hasil survei yang menyebutkan pembelian online para ibu terutama berkisar untuk anak. Sekitar 78% belanja para ibu untuk produk pakaian anak dan 61% untuk produk bayi/anak.

Dari survei tersebut juga terlihat, waktu yang terbanyak ibu untuk belanja online adalah pukul 19.00 ke atas. Lagi-lagi alasannya tidak jauh dari anak. Nadya menduga waktu favorit itu karena ibu sudah bisa bersantai, dan anak-anak sudah tidur.

Nadya mengatakan belanja online dapat mengisi waktu ibu dengan cara menyenangkan. Para ibu berisiko tinggi mengalami stres, kelelahan fisik, emosi, dan mental. Ibu yang stres akan mempengaruhi hubungan ke anak, dan juga pasangan.

Belanja online bagi para ibu bisa menjadi reward dari kesibukan di kantor dan di rumah, serta menjadi me time.

Titik nadir mal?

Walau persentase belanja online kian tinggi, tapi pergi ke mal tetap dianggap tidak kehilangan peran. Menurut Nadya, sebagai makhluk sosial pergi ke tempat dengan suasana yang beda tetap menyenangkan.

Namun kemacetan, tingkat stres yang tinggi membuat para ibu butuh ‘piknik yang lebih cepat’ dengan belanja online. “Walaupun harus menunggu weekend, berjuang dengan kemacetan, atau anak tantrum dan lainnya, bukan berarti menghilangkan sensasi menyenangkan dengan window shopping,” tegas Nadya. (Red)

Penulis : | Editor : A. Fajar | Sumber : Reportase.net
Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar

News Feed