oleh

Rumah Warga Palembang Dirobohkan TNI AU

REPORTASE – Puluhan anggota dari kesatuan TNI Angkatan Udara Landasan Udara Sri Mulyono Herlambang Palembang, Sumatera Selatan merobohkan satu unit rumah warga yang dalam kondisi sedang dibangun di Jalan Santosa, RT32 RW 09, Kelurahan Sukodadi, Kecamatan Sukarami, Kamis (6/9/2018) .

Ketua RT 32 Mustakim mengatakan, mulanya ia mendapat kabar jika seseorang berasal dari TNI AU datang ke lokasi kejadian dengan menggunakan dua unit mobil truk memakai senjata lengkap.

Para tukang bangunan sedang sedang bekerja, mendadak keputusan untuk berhenti melakukan kegiatan mereka.

Seluruh pekerja itupun disuruh pergi dan selanjutnya para personel TNI AU itu merobohkan bangunan dengan memakai bodem, linggis dan lain sebagainya.

“Saya datang kesini untuk melerai agar tidak terjadi kekerasan. Tapi saya malah dikeroyok dan dipukuli mereka, bahkan sebelum yang ditusuk pakai sangkut, ”kata Mustakim dilokasi kejadian.

Rumah tersebut menurut Mustakim adalah milik Rubahudin, salah satu orang yang sedang dalam proses renovasi. Seluruh surat menyurat pun mereka.

“Alasan dari TNI AU jika kawasan ini dalam status quo milik mereka. Kami sudah ada sejak lama dan turun temurun dan sudah satu dekade. Pajak bumi dan bangunan semuanya kami bayar, sertifikat dan ada, mengapa kami dilarang membangun? ”Ujarnya.

Dia melanjutkan, 20.000 kepala keluarga di 35 RT kawasan itu berselisir dengan TNI AU. Jumlah penduduk yang memiliki surat tanah pun sebanyak 1.834 warga. Dari jumlah itu, 50 persen sertifikat tanah. Sementara 50 persen lainnya memiliki akte camat.

“Kalau memang tanah ini milik TNI AU, silakan. Warga pun bertahan solusi, bukan sengketa terus. Warga terbuka untuk menyelesaikan. Namun pembongkaran ini merupakan tindak arogansi dan intimidasi. Sama seperti 2014 lalu saya dan keluarga menjadi korban penembakan oleh personel TNI AU, “tegas Mustakim.

Terpisah, Kepala Penerangan TNI AU Landasan Udara Sri Mulyono Herlambang Palembang Lettu Semadi mengatakan, Bangunan rumah tersebut masih dalam status quo dan tidak menyambut untuk dibangun.

Sehingga, pihaknya pun melakukan tandatangan setelah surat yang diberikan pada Juli kemarin tidak didengarkan masyarakat.

“Karena itu adalah milik negara yang menjadi milik TNI AU, kami mem-bentuk wilayah-wilayah tersebut. Kami akan melakukan pembongkaran tiga rumah bulan Mei, ”ujarnya.

Surat milik rumah Robani pun menurutnya hanya sebatas dari kecamatan tanpa sertifikat. Untuk kekuatan lahan itu belum ada.

“Kalau punya sertifikat silahkan, kalau yang tadi hanya dari camat. Sekarang kan statusnya quo jadi tidak bisa ada Bangunan atau aktifitas, ”kata Semadi.

Banyak orang yang berani member anggota, mernurut Semadi hanya sebatas sebagai untuk berjaga-jaga. Senjata laras panjang itupun tak ditampik oleh Semadi jika mengisi amunisi peluru karet.

“Mungkin bukan kekerasn, mungkin senggolan jadi dibilang kekerasan. Senjata itu hanya untuk berjaga-jaga saja kalau ada apa-apa. Isinya peluru karet tidak peluru tajam, ”ungkapnya.

Penulis : | Editor : A. Fajar | Sumber : Reportase.net
Hashtags :
Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

Komentar

News Feed