oleh

Cerita Gergaji Patah Hingga Tangis Penyesalan Warnai Sidang Perdana Prada DP

Gergaji Patah Hingga Tangis Penyesalan Warnai Sidang Perdana Prada DP

REPORTASE – Sidang perdana terhadap terdakwa Prada DP dalam kasus pembunuhan disertai mutilasi kini digelar di Pengadilan Militer I-04 Palembang, Kamis (1/8).

Dalam persidangan tersebut, beberapa fakta terungkap saat Mayor D Butar-Butar sebagai Oditur membacakan tuntutan yang diberikan kepada Prada DP.

Hingga, terdakwa pun meneteskan airmata penyesalan atas perbuatannya melakukan pembunuhan disertai mutilasi terhadap sang pacar yakni Fera Oktaria, 21.

Dibacakan Oditur, terdakwa menduga jika korban memiliki hubungan dengan pria lain, sehingga membuatnya kalaf dan memutuskan untuk kabur dari tempat pendidikan kejuruan infrantri di Baturaja (3/5) lalu.

Terdakwa pun langsung menuju ke Palembang dan menghubungi korban untuk bertemu.

“Selama di Palembang terdakwa sempat tinggal bersama saksi lain di rumah kos,” katanya dalam persidangan, Kamis (1/8).

Baca :   Sigap dan Safety Prosedur, Teknisi Perbaiki Korsleting Kebel Listrik Yang Rawan Kebakar

Terdakwa pun akhirnya meminta jemput korban di kawasan Kertapati Palembang dan keduanya pun menuju ke kawasan Sungai Lilin serta menginap di lokasi kejadian.

Selama di penginapan, keduanya pun sempat melakukan hubungan suami istri hingga akhirnya terjadi keributan. Lantaran, telpon genggam korban dalam kondisi terkunci. Padahal, keduanya sempat sepakat membuat sandi tanggal hari jadian mereka yakni 090914.

“Terdakwa pun curiga dan menanyakan korban. Namun, dijawab korban kamu enak saja berhubungan terus, kapan mau nikahi saya, sekarang saya sudah hamil dua bulan,” terang Mayor D Butar-Butar.

Mendengar jawaban tersebut terdakwa pun marah dan membenturkan kepala Fera ke dinding dan membuatnya tak sadarkan diri. Tak sampai situ, terdakwa pun kurang puas dan langsung membekap korban hingga korban pun tewas.

Baca :   SAH, Jokowi Umumkan, Prabowo Terpilih Jadi Menteri Pertahanan

Untuk menghilangkan jejak atas aksi tersebut, terdakwa kebingungan dan keluar kamar penginapan. Kemudian terdakwa pun melihat gergaji di dalam gudang dan digunakannya untuk memotong tubuh korban.

Gergaji itu patah sebelum tangan korban putus. Kemudian, terdakwa keluar kamar dan membawa motor untuk membeli gergaji dan tas.

“Sesampainya di penginapan, terdakwa melakukan mutilasi hingga tangan korban terpotong. Namun, gergaji itu pun kembali patah,” ujar Oditur.

Terdakwa pun menghubungi temannya dan memberitahukan bahwa telah membunuh Fera. Sontak, temannya pun terkejut. Namun, terdakwa meminta saran kepada temannya untuk menghilangkan jejak aksi pembunuhan tersebut.

“Teman dari terdakwa menyebutkan bakar saja,” terangnya.

Terdakwa pun akhirnya memasukkan korban ke dalam kasus, dan menyiapkan obat nyamuk bakar yang tujuannya untuk membakar jenazah Fera.

Baca :   MEO Unsri Emban Misi Budayakan Olahraga di Sumsel

“Obat nyamuk itu pun mati sehingga terdakwa gagal membakar korbannya,” ujarnya.

Atas aksi tersebut, Mayor D Butar-Butar sebagai Oditur pun menuntut terdakwa dengan pasal berlapis yakni 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dan subsider KUHP tentang pembunuhan.

“Prada DP telah berencana untuk membunuh korban,” tutupnya.

Berdasarkan pantauan, persidangan tersebut diwarnai tangisan penyesalan terdakwa, terutama saat dihadirkannya kakak korban untuk memberikan keterangan.

Hingga, majelis hakim yang diketuai Letkol CHK Khazim mengingatkan terdakwa untuk tidak menangis diruang persidangan.

“Terdakwa kuat, sanggup mengikuti sidang? tanya hakim ketua.

Terdakwa pun menjawab, “Siap, sanggup yang mulia,” jawabnya.

Hakim ketua pun mengingatkan antar tentara, apa yang dirasakan harus kuat. “Bawa sapu tangan?” tanya lagi sang hakim.

“Siap, bawa yang mulia,” jawab Prada DP.

Penulis : | Editor : A. Fajar | Sumber : Reportase.net
Hashtags :
Bagaimana reaksi Anda tentang berita ini ?
  • Fascinated
  • Happy
  • Sad
  • Angry
  • Bored
  • Afraid

News Feed